JAKARTA - Indonesia tetap optimistis dapat mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% meskipun situasi ekonomi global masih penuh ketidakpastian.
Pemerintah dan pelaku ekonomi percaya bahwa resiliensi domestik akan menjadi kunci untuk mencapai target tersebut.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan global, potensi sektor-sektor domestik yang stabil, serta kebijakan yang mendukung konsumsi rumah tangga dan sektor investasi, memberi harapan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Tantangan Ekonomi Global yang Memengaruhi Indonesia
Seiring dengan ketidakpastian ekonomi global yang belum membaik, Indonesia tetap menghadapi dinamika tersebut dengan penuh kewaspadaan. Firman Hidayat, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menyoroti bahwa prospek perekonomian global masih suram dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan yang tercatat sebelum pandemi.
Menurut data dari IMF, pertumbuhan ekonomi dunia untuk periode 2023-2029 diperkirakan hanya mencapai 3,2%, jauh lebih rendah dibandingkan 3,7% pada era 2000-2019.
Hal ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi oleh semua negara di dunia, termasuk Indonesia, sangat berbeda dari kondisi ekonomi global di masa sebelum pandemi.
Fenomena perlambatan ekonomi global, yang bersifat struktural, menjadi penyebab utama pesimisme di pasar internasional. Firman mengungkapkan bahwa berbagai negara masih berjuang untuk pulih dari dampak pandemi, terutama negara-negara dengan defisit fiskal yang besar dan rasio utang yang tinggi.
Ditambah dengan kebijakan proteksionisme yang semakin menguat pasca-pandemi, seperti yang diterapkan oleh Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya, perdagangan global semakin terhambat. Hal ini tentu saja memengaruhi daya saing Indonesia di pasar internasional.
Selain itu, perlambatan ekonomi di China juga berpengaruh besar terhadap perekonomian Indonesia. Dalam sepuluh tahun terakhir, hubungan ekonomi antara Indonesia dan China semakin erat. Namun, pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi China diprediksi melambat dan berdampak langsung pada ekspor Indonesia, terutama batu bara.
Firman juga mengingatkan tentang tren peralihan ke energi terbarukan yang semakin kuat di China, yang berpotensi mengurangi permintaan terhadap komoditas energi fosil seperti batu bara.
Untuk itu, Indonesia harus bijak menghadapinya dengan kebijakan yang tepat dan melakukan diversifikasi perdagangan dengan negara lain, seperti India yang saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif.
Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Domestik
Meskipun tantangan eksternal cukup berat, Indonesia menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi domestik. Firman menilai bahwa meskipun perekonomian global masih suram, Indonesia memiliki resiliensi ekonomi yang cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil sekitar 5% menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia dapat bertahan dalam menghadapi tekanan luar.
Aspek-aspek makroekonomi seperti transaksi berjalan dan cadangan devisa yang terjaga, memberikan keyakinan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang cukup baik untuk menghadapi ketidakpastian.
Namun, Firman mengingatkan bahwa meski ekonomi domestik stabil, tantangan ke depan tetap besar. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya tingkat pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih berada di bawah 5%. Di sisi lain, meskipun kinerja ekspor mengalami kenaikan, investasi domestik dan asing masih membutuhkan dorongan yang lebih kuat.
Oleh karena itu, pemerintah perlu melanjutkan upaya untuk mendorong investasi melalui kebijakan fiskal yang lebih inklusif dan mendukung sektor-sektor yang dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian.
Kebijakan Pemerintah untuk Mencapai Target Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah Indonesia memiliki berbagai kebijakan yang dirancang untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026. Firman Hidayat menjelaskan bahwa kebijakan fiskal yang dilakukan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, khususnya dalam bentuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), akan mendorong konsumsi rumah tangga.
Sejak awal tahun, program ini telah membelanjakan sekitar Rp 20 triliun, yang diyakini dapat meningkatkan daya beli masyarakat, terutama di kalangan keluarga berpendapatan rendah. D
engan tren pertumbuhan konsumsi yang diperkirakan akan membaik pada kuartal IV 2025, optimisme terhadap ekonomi domestik semakin tumbuh.
Selain itu, penyaluran bantuan sosial (bansos) yang semakin tepat sasaran, berkat penggunaan teknologi biometrik dan sistem pembayaran digital, menjadi salah satu faktor yang akan memperkuat sektor konsumsi. Bansos yang terintegrasi dengan data kependudukan diprediksi akan lebih efisien dan tepat sasaran, yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan konsumsi rumah tangga.
Tantangan dalam Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas
Namun, meskipun sektor konsumsi rumah tangga menunjukkan potensi yang cukup besar, tantangan terbesar dalam perekonomian Indonesia saat ini adalah menciptakan lapangan kerja yang berkualitas. Firman menekankan bahwa meskipun tingkat pengangguran terbuka mengalami penurunan, kualitas lapangan kerja yang tersedia masih menjadi masalah besar.
Banyak pekerja yang belum memperoleh pekerjaan penuh dengan jaminan yang layak. Untuk itu, pemerintah harus fokus pada penciptaan lapangan kerja yang lebih baik dan berkualitas melalui sektor-sektor yang lebih produktif, seperti industri padat karya dan sektor-sektor yang lebih mampu menyerap tenaga kerja, seperti pertanian dan perikanan.
Selain itu, sektor hilirisasi, baik di sektor pertambangan maupun pertanian dan kelautan, perlu diperkuat untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan mendatangkan investasi.
Sektor-sektor ini berpotensi besar untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Pemerintah perlu mendukung kebijakan-kebijakan yang memungkinkan investasi asing dan domestik terus mengalir dengan kemudahan berusaha, termasuk revisi regulasi yang relevan seperti Daftar Negatif Investasi (DNI).
Meskipun tantangan besar masih ada, Indonesia tetap optimistis bahwa dengan kebijakan yang tepat dan dorongan sektor swasta, target pertumbuhan ekonomi 5,4% pada tahun 2026 dapat tercapai.